MOST RECENT

Raja Maroko Undang Ketua Umum PBNU


LONDON, KOMPAS.com - Raja Maroko Mohammed VI, mengundang Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siradj untuk berkunjung ke Maroko pada Ramadan mendatang, demikian keterangan pers KBRI Maroko, Minggu (18/4/2010).
    
Undangan Raja Maroko itu disampaikan oleh Menteri Wakaf dan Urusan Islam Maroko melalui Dubes Maroko untuk Indonesia Mohammed Majdi yang didampingi Sekretaris I Kedubes Mostafa Nakhlaoui, kepada Said Aqil di kantor PBNU Jakarta. 
    
Said Aqil dalam kesempatan itu menyatakan setuju dan memenuhi undangan Raja Maroko tersebut sebagai bentuk penghormatan terhadap NU.
    
Dalam undangan tersebut Said Aqil  diminta untuk menyampaikan ceramah agama di hadapan raja dan ulama-ulama dari seluruh dunia pada acara Durus Hasaniyyah yang bertema "Pemeliharaan Agama dan Kepercayaan di Negara-negara Demokratis". Ketua Umum PBNU menyatakan kesediaannya.
    
Jika kegiatan itu terlaksana Said Aqil Siradj akan menjadi orang Indonesia pertama yang akan menyampaikan ceramah agama di hadapan Raja Maroko.
    
Dalam kesempatan itu Dubes Maroko menyampaikan, Maroko dan Indonesia akan meningkatkan kerja sama khusus di bidang agama agar tercipta prinsip-prinsip toleransi sesuai dengan pemikiran yang dikembangkan oleh NU.
    
Said Aqil didampingi Sekjen PBNU H Iqbal Sullam dan juru bicara ICIS Ahmad Ridho mengusulkan agar dibangun masjid, sekolah atau rumah sakit dengan menggunakan nama Raja Muhammad As-Sadis. Usul tersebut disanggupi Dubes Mohammed Majdi. "Kami akan menyampaikan usulan ini kepada Raja Maroko dan NU diharapkan menyediakan tanah wakaf dan menyiapkan rencana tersebut," katanya.
    
Pihak Maroko juga berharap ada karya ulama Indonesia yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab dan diedarkan di negara-negara Arab sehingga menjadi khasanah Muslim di negara-negara Arab dan khususnya di Maroko.
    
Menurut Said Aqil, karya ulama Indonesia sudah banyak yang diterbitkan dalam bahasa Arab dan dikaji di berbagai negara Muslim seperti Maroko. "Banyak karya ulama Indonesia yang menjadi rujukan seperti karya Syekh Nawawi Banten, Syekh Ihsan Jampes atau Syekh Mahfudz Termas," katanya.

08.05 | Posted in , | Read More »

Ketika Badai Revolusi Menjalar ke Maroko

Reuters Gerakan 20 Februari di rabat, ibukota Maroko, menuntut pembatasan kekuasaan Raja Mohammed VI.

RABAT, KOMPAS.com - Badai revolusi terus meluas ke seantero Timur Tengah, termasuk sebagian Afrika. Satu demi satu rezim-rezim tua di sana digempur gerakan rakyat yang muak.
Rakyat Maroko pun terinspirasi keberhasilan rakyat Tunisia dan Mesir. Sekitar 3.000 sampai 4.000 orang Tunisia, Minggu (20/2/2011), turun ke jalan menuntut reformasi politik dan pembatasan kekuasaan Raja Mohammed VI.
Di jalanan ibukota Rabat, mereka berseru bahwa rakyat ingin perubahan, pemberantasan korupsi dan konstitusi yang demokratis. Di Casablanca, kota terbesar di negeri Afrika Utara itu, lebih dari 4.000 orang mengusung jargon, "kebebasan, martabat, keadilan."
Demonstrasi gelar serentak di berbagai kota, antara lain Marrakesh dan Tangier. "Gerakan 20 Februari" itu berhasil digalang berkat para pemuda Maroko berhimpun di laman Facebook.

08.04 | Posted in | Read More »

Oposisi Gelar Demo Terbesar

AP Bahraini protesters chant slogans at the Pearl roundabout soon after the military and police pulled out in Manama, Bahrain, Saturday, Feb. 19, 2011.

MANAMA, KOMPAS.com — Ribuan pendukung oposisi Bahrain yang dipimpin kelompok Syiah pada Selasa (22/2/2011) memulai sebuah unjuk rasa antirezim berkuasa yang disebut sebagai aksi terbesar sejak protes dilakukan pekan lalu. Sebuah spanduk bertuliskan "aksi kesetiaan terhadap para syuhada" terlihat di depan kerumunan massa yang berjalan dari Mal Bahrain di Manama menuju Taman Mutiara di pusat kota, titik utama aksi protes terhadap pemerintah sejak 14 Februari.
Dalam spanduk tersebut juga terpampang foto tujuh "syuhada" yang terbunuh oleh pasukan keamanan, seorang terakhir meninggal akibat lukanya pada Senin dan dikebumikan pada Selasa pagi. "Rakyat ingin rezim jatuh," teriak mereka dalam suara yang serempak, seraya melambai-lambaikan bendera merah dan putih Bahrain. Sekelompok wanita berkerudung hitam meneriakkan slogan perlawanan terhadap pemimpin monarki Bahrain, Hamad bin Issa al-Khalifa. "Tanganmu akan lumpuh, Hamad!" kata mereka. "Turun turun Khalifa," teriak massa yang mengutuk Perdana Menteri Sheikh Khalifa bin Salman, paman dari Raja Hamad yang telah menjabat posisi itu sejak tahun 1971 dan terkenal dibenci kalangan Syiah Bahrain.
Ibrahim al-Sharif, seorang pemimpin aktivis oposisi sekuler Sunni, memprediksi bahwa aksi massa pada Selasa ini akan menjadi yang terbesar bagi pihak oposisi.

08.02 | Posted in , | Read More »

Gejolak di Timur Tengah Tak Termotivasi "Revolusi Islam"




Seorang wanita Muslim AS turut berpartisipasi dalam aksi unjuk rasa untuk mendukung warga Mesir dalam menggulingkan pemerintahan Gamal Mubarak, 29 Januari 2011 di New York. (Foto: Getty Images)
Seorang wanita Muslim AS turut berpartisipasi dalam aksi unjuk rasa untuk mendukung warga Mesir dalam menggulingkan pemerintahan Gamal Mubarak, 29 Januari 2011 di New York. (Foto: Getty Images)
TEHERAN (Berita SuaraMedia) – Terlepas dari ketakutan dan harapan bahwa gejolak di Timur Tengah bisa melahirkan revolusi Islam, oposisi itu sejauh ini tampaknya tidak dimotivasi oleh agama.
Ayatollah Ahmad Khatami dari Iran memperingatkan bahwa peristiwa akhir-akhir ini di Timur Tengah dan dunia Arab tidak boleh diremehkan.
Dalam khotbah Jumatnya (26/1) di Teheran, dia mengatakan ada Timur Tengah Islami yang tengah dibangun, yang berdasarkan Islam, agama dan demokrasi. Televisi Iran  juga menayangkan seruan untuk solidaritas dengan para pelajar Tunisia dan Mesir dan melaporkan tentang demonstrasi di Yaman, Yordania, Eropa, dan AS.
Perbandingan dilakukan dengan Revolusi Iran tahun 1979, sementara demonstrasi dan gejolak di Iran saat ini tidak disebutkan.
Namun sejauh ini tidak ada indikasi bahwa terjadi revolusi yang baru atau bahwa ada efek domino di seluruh kawasan. Sementara teriakan Allahu Akbar terdengar dalam demonstrasi menentang hasil pemilu Iran tahun 2009, tidak ada teriakan serupa yang terdengar di Tunisia, Mesir, Yaman, atau Yordania.
Kelompok-kelompok politik Islam di negara-negara yang terdampak menjaga profilnya tetap rendah saat peristiwa-peristiwa saat ini terungkap. Figur oposisi Islam Tunisia Rachid Ghanouchi, yang berada di pengasingan selama 18 tahun, baru kembali ke Tunisia akhir pekan ini, lebih dari dua minggu setelah tergulingnya rezim lama Tunisia.
Ikhwanul Muslimin di Mesir sejauh ini belum membuat upaya apapun untuk mengambil peran kepemimpinan dalam protes menentang Presiden Mesir Hosni Mubarak. Ini mungkin mengejutkan karena Ikhwanul Muslimin telah lama menjadi penentang keras rezim penguasa di seluruh dunia Arab, menuduh para pemimpin Arab korup, represif, dan melayani kepentingan Barat.
Cara melakukannya, menurut Ikhwanul Muslimin, adalah dengan gerakan pan-Arab yang berbasis pada Islam. Tapi para demonstran di jalan-jalan Mesir tampaknya tidak terdorong oleh ide semacam itu. Apa yang mereka perjuangkan adalah kebebasan, pendidikan, pekerjaan, dan sebuah kehidupan yang bermartabat.
Sekitar 40% dari 80 juta penduduk Mesir hidup dalam kemiskinan, sementara anggota dan teman-teman rezim menikmati kemakmuran dan keistimewaan. Pemerintah dalam beberapa tahun terakhir telah berusaha untuk memulihkan perekonomian, tapi penerima utama manfaatnya adalah kembali lagi para jutawan Mesir, dengan mayoritas penduduk tidak banyak melihat adanya kemajuan. Jumlah mereka yang hidup dalam kemiskinan masih terus meningkat.
Rezim otoriter Mesir telah menjadi sekutu Barat yang menganggap bahwa mereka membutuhkan Kairo untuk alasan strategis, sebagai mediator di Timur Tengah. Sementara itu, berkembangnya masalah di dalam Mesir tampak tidak terlalu menjadi perhatian bagi masyarakat internasional. (rin/dw) www.suaramedia.com

06.49 | Posted in | Read More »

Revolusi Libya, Sekuat Apakah Muammar Gaddafi?

Revolusi Libya, Sekuat Apakah Muammar Gaddafi?

Era Muslim-Dibandingkan presiden Tunisia, Mesir atau Yaman, kekuasaan Muammar Gaddafi di Libya jauh lebih panjang. Gaddafi berkuasa sejak ia berhasil melakukan kudeta di Libya pada tahun 1969 hingga hari ini.
Gaddafi belum menunjukkan tanda-tanda untuk "mengalah" pada tuntutan rakyatnya, meski korban sudah berjatuhan. Penguasa Libya yang "nyentrik" itu tidak segan-segan mengerahkan pasukan militernya untuk meredam aksi protes. Bahkan, ia kabarnya memerintahkan para pilot pesawat tempurnya untuk menembaki demonstran antipemerintah.
Jumlah korban tewas dalam ketegangan politik di Libya sudah mencapai 400 orang dan ribuan pengunjuk rasa lainnya mengalami luka-luka. Gaddafi pun mulai kehilangan dukungan dari dalam pemerintahannya sendiri. Duta Besar Libya di Malaysia, mengutuk tindakan represif pasukan Gaddafi dan menyebutnya sebagai pembantaian terhadap Libya. Sementara Dubes Libya di India, dilaporkan mengundurkan diri setelah mendengar Gaddafi mengerahkan pesawat tempur untuk menembaki para demonstran.
Sedemikian nekatkah Gaddafi menghadapi aksi protes rakyatnya sendiri? Analis Timur Tengah, Zvi Bar'el dalam analisanya di surat kabar Haaretz menyatakan, menumbangkan Gaddafi tidak semudah menumbangkan presiden Mesir atau Tunisia.
Ia menulis, sejak berkuasa di Libya, Gaddafi tidak pernah menyebut dirinya sebagai "presiden atau jenderal". Ia selalu menegaskan bahwa kekuasaannya merupakan hasil konsensus umum, atas dasar persaudaraan, setelah kudeta tahun 1969. Dan dengan alasan "persaudaraan" itu, Gaddafi tidak memberi ruang bagi aksi-aksi unjuk rasa dan perubahan rezim di Libya. Aksi-aksi semacam itu dianggap pemberontakan dan pengkhianatan terhadap "saudara yang lebih tua."
Perekonomian Libya relatif stabil dengan pendapatan per kapita setiap tahunnya sekitar 14.000 dollar AS. Gaddafi melakukan investasi di industri manufaktur dan menyerahkan investasi itu hanya pada kroni-kroninya. Sebagai imba balik, Qaddari hanya meminta kroni-kroninya "patuh secara total" pada pemerintahan dan kekuasaannya.
Itulah sebabnya, Gaddafi melihat aksi protes rakyat sebagai "pengkhianatan" yang tidak bisa diselesaikan dengan cara dialog atau pemindahan kekuasaan pada pihak lain karena Muammar Gaddafi-lah sesungguhnya rezim Libya itu sendiri. Institusi pemerintahan dan parlemen di Libya sudah lama mandul. Tak heran jika organisasi-organisasi hak asasi manusia menyebut Libya sebagai negara yang paling buruk di dunia dalam hal hubungan antara pemerintah dengan rakyatnya.
Posisi Gaddafi semakin tak tergoyahkan menyusul pulihnya hubungan bilateral Libya dengan AS, setelah AS menghapus Libya dari dari daftar teroris pada tahun 2007. Tahun 2008, pemerintahan Gaddafi membayar uang kompensasi sebesar 1,4 miliar dollar pada AS, untuk dibagikan bagi para korban aksi-aksi teror yang selama ini dituduhkan AS pada Libya. Sejak itulah, AS mulai kembali "ikut campur" di Libya. Alih-alih mengklaim sebagai negara yang ingin menegakkan demokrasi, AS malah mendukung pemerintahan Gaddafi yang tidak demokratis. AS bahkan bersikap lunak terhadap tindakan represif Gaddafi pada para demonstran. Berbeda dengan kecaman keras AS terhadap tindakan represif Husni Mubarak, saat revolusi Mesir.
Gaddafi juga mengamankan posisinya dengan memberikan jabatan penting pada anak-anaknya sendiri. Anak Gaddafi yang bernama Muttasim, ditunjuk sebagai penasehat keamanan dalam negeri. Anak Gadddafi lainnya, yaitu Khamis ditunjuk sebagai komandan militer senior yang mengepalai Brigade Khamis--salah satu pasukan elit Libya yang sangat terlatih, Saadi ditunjuk sebagai pejabat pemerintahan senior dan Saif al-Islam ditunjuk sebagai kepala kebijakan dan urusan luar negeri Libya.
Sulit diprediksi akan seperti apa akhir dari revolusi rakyat Libya, meski kabar yang beredar menyebutkan bahwa sejumlah komandan batalion angkatan bersenjata Libya mulai berpihak pada rakyat yang melakukan unjuk rasa, termasuk munculnya sosok putera dari pahlawan nasional Libya, Omar Al-Mukhtar yang ikut turun bersama para demontsran dan mendorong kelompok etnis dan politisi di Libya untuk menumbangkan Gaddafi.
Situasi di Libya tidak sama dengan di Tunisia atau Mesir, dimana partai-partai politik, militer dan institusi sipil berfungsi dengan baik. Di Libya, konstitusi disusun berdasarkan apa yang disebut sebagai "Buku Hijau Gaddafi." Di Libya, juga tidak ada partai politik dan tidak ada gerakan Islam yang cukup kuat. Hanya Gaddafi, satu-satunya kekuatan yang mengendalikan militer, institusi pemerintah bahkan kelompok-kelompok etnis yang ada di negeri itu. (ln/hrz)

06.18 | Posted in , | Read More »

Blog Archive

Recently Commented

Recently Added